Laman

Sabtu, 11 Mei 2013

SIIR SURAT AL FATIHAH


Bismillahhirrahmannirrahim,…..asyhaduanlaillah haillallah wasyhaduanna muhammadarrasullallah
AL FATIHAH dalam serat makrifat terjadi jauh seebelum malaikat,adam dan hawaa serta alam zahir ini di ciptakan,alfateha adalah kalimat lengkap serta awal dari ucapan makhluk semula awal kepada tuhannya sebagai rasa menghamba/mengakui bhwa ia hamba dan tuhan itu yang di hamba/ia yang menyembah dan tuhan yang di sembah,yaitu NUR yang bernama MUHAMMAD,ALFATEHA adalah reflexi mitologi dari ke absahan pengakuan makhluk paling awal saat ia mengakui bahwa yang makhluk itu ia (nur muhammad) dan yang bukn makhluk itu TUHAN ( ALLAH…sebelum bernama ALLAH tuhan bernama xxxx),nah setelah alfatih itu tercetus kalimatnya oleh nur muhammad namun masih belum teratur,masih zigzag karena mahkluk awal tadi masih terkejut dengan kejadiannya,setelah qalam qlamullah mulai menjadi seperti malaikat,ruh dan nabi adam maka mulailah alfateha ini menjadi penggerak utama dari bio modeling kejadian kejadian makhluk lain tadi,alfateha mulai terpikirkan oleh makhluk makhluk tersebut sebagai rangkaian ruh kalimat yang harus di rangkai,nah pada saat inilah alfateha mulai menjadi cikal bakal,sebab musabab dari bermulanya sipat sipat serta kejadian makhluk ALLAH tersebut,dengan maksud yang lebih standar adalah:
“SAAT ALFATIHAH ITU DI SUSUN BERDASARKAN SUSUNAN RUH YANG INDAH BAIK DAN TEPAT DI SAAT ITU PULA MENJADILAH BEBERAPA BENTUK DARI ALAM SEMESTA INI,MAKSUD SAYA SAAT AYAT PERTAMA ALFATEHA DI BENTUK DENGAN DI SUSUPI RUH NYA MAKA TERBENTUKLAH SUSUNAN GEOMETRIS LANGIT PERTAMA DAN SUSUNAN BIO COLLECTIV SUSUNAN ZAHIR OTAK NABI ADAM DENGAN LENGKAP,PINTER BERAKAL DAN SEMPURNA.DENGAN BEGITU MAKA OTAK NABI ADAM tentu juga semua manusia adalah sedulur,selahir dengan ayat alfatihah yang pertama,NAH JIKA KALIMAT AYAT INI TERGANGGU ATAU TIDAK TERBACA OLEH MANUSIA MAKA AKAN SANGAT BERPENGARUH KEPADA OTAK MANUSIA TERSEBUT.(ini kunci ilmu ibu alfatiha tersebut)
“KAJI YANG KEDUA: ALFATEHA ITU SETELAH LENGKAP TERSUSUN DI ALAM MALAKUT IA DI SUMPAH BAHWA ENERGY NYA AKAN MENYELAMATKAN SIAPA SAJA YANG MEMBACANYA DENGAN PENUH LENGKAP DAN ISTIQOMAH,NAH JIKA ADA SEORANG ANAK CUCU NABI ADAM MEMBACA ALFATEHA LALU IA BELUM SEMPAT MELENGKAPI AYATNYA KARENA TERGANGGU OLEH PERKARA LAIN MAKA AKAN TERGANGGULAH SELURUH ROTASI PERPUTARAN MUKA BUMI INI,MAKA ALAM SEMESTA AKAN KACAU BALAU,MEMORI SELURUH MAKHLUK AKAN TERGANGGU.MAKA OLEH ITU SESIAPA YANG MEMBACA ALFATEHA MAKA IA AKAN DI SELAMATKAN DARI SEGALA KEJAHATAN SAMPAI IA SELESAI MEMBACA LENGKAP PENUH AYAT ALFATEHA TERSEBUT OLEH KHODAMUS SERTA ALAM SEKITARNYA.
“KAJI YANG KE TIGA”: SESUNGGUHNYA SESIAPA YANG SALAH SEDIKIT SAJA BUNYI TAJWID MEMBACA ALFATEHA MAKA SUSUNGGUHNYA IA TELAH MENGUNDANG 9 ANAK CUCU SYEITHON UNTUK HADIR DAN BEKERJA UNTUKNYA,SEBAB DI DALAM ALFATEHA ITU ADA NAMA 9 ANAK SYEITHON JIKA KITA TERSALAH BUNYI MEMBACANYA,SEPERTI ” IYYA KANAQ BUDHU WA IYYA KANASTAIN” JIKA TERSEBUT KANASSTAIM,MAKA TAIM ITU ADALAH ANAK SYEITHON DARI GOLONGAN JIN THAHIT.
CONTOH YANG KEDUA ADA PADA KALIMAT “IYYA KANAQ BUDHU” JIKA TERSEBUT BUNYI “IYA KANAQ BUHDU” IYYA MENJADI,IYA” MAKA ARTINYA BUKAN LAGI PADA ‘KEPADA MU YA ALLAH KAMI MENYEMBAH tetapi MENJADI KEPADA MU YA MATAHARI KAMI MENYEMBAH” ( dahulu jaman jaman lagi maraknya dukun santet,saya pernah bertemu seorang ahli santet yang ia menggunakan santet nya hanya dengan membaca al fatihah tetapi alfatihah nya di salah salahkan bunyinya,agar yang berbunyi memanggil nama anak anak syeithon)
“KAJI YNG KE EMPAT: 7 ayat alfateha itu sesungguhnya berada dan berbentuk dalam serat bagian tubuh manusia,ia menjadi qursani dan hamiyyah(besi semula jadi dan api tubuh manusia) ayat tersebut berada terpencar pencar di dalam 7 bagian tubuh manusia,jika ke 7 kalimat alfateha ini yang berada pada 7 bagian tubuh manusia tersebut dapat di connect kan maka ia akan menghasilkan dentuman energy nyata yang sngat besar,sesungguhnya TENAGA DALAM YANG MAMPU MEMENTALKAN BENDA MATI,TAMPA EMOSI,ORANG YANG MAMPU MENGELUARKAN SERANGAN API DARI TUBUHNYA,MAMPU MELAYANG DI UDARA ATAU BERLARI SECEPAT ANGIN,ATAU MENGGUNAKAN ILMU GAYUNG JANTUNG (ilmu gayung adalah ilmu pukulan jarak jauh yang mampu membuat lawan putus jantungnya seperti di gunting) itu semua adalah bentuk nyata dari qursani dan hamiyyah tubuh yang ter focus oleh 7 ayat alfateha yang telah connect/terhubung tadi….sayangnya sangat banyak orang kita muslim sekarang yang ke 7 ayat alfateha di batang tubuhnya ini masih berpencar/terputus putus satu dengan yang lainnya sehingga tidak dapat merasakan manfaat khasiat dari alfateha yang ia baca atau amalkan,saya terkejut saat 1 tahun lalu datang ke salah satu biara saholin temple di inggris miliknya Mr wong karena hendak mendalami THAI CHI COMBAT DAN CHI KUNG salah satu peserta di situ anak muda dari brebes jawa tengah mampu menghantam dan melontarkan meja besi jarak jauh tampa menyentuh tampa menggunakan olah pernapasan tenaga dalam,lalu ia sudi membeberkan sedikit rahasianya bahwa ia mengkaji dan belajar menggabungkan/meng connectkan 7 ayat dalam alfateha tersebut di tubuhnya dan stelah connect energy bio atom itu lah yang ia picu untuk di hantamkan ke benda mati tampa olah napas apapun (bertambah keimanan saya pada alfateha).
baiklah berikutnya akan saya ijzahkan tehnik serta tata cara menggabungkan ke 7 ayat alfateha yang terpencar pencar dalam batang tubuh kita tadi beserta tata cara menggunakan induk alfteha ini,tentu dengan struktur yang telah sya dapat dari fenomena saya khatam tadi
AYAT YANG PERTAMA TERSIMPAN PADA SERAT TUBUH TENGKORAK KEPALA MANUSIA,jika ayat ini di control dan di daya gunakan seperti di preteli dan di utak atik oleh orang lain maka akan ber efect mengganggu system syaraf serta mempengaruhi sipat serta kebiasaan organ bagian tubuh yang di jaga oleh tengkorak kepala tersebut,namun jika bio energy nya mampu di connect kan pada ayat tubuh yang lain maka reaksi sangat postive dapat si pengamal raih.
AYAT YANG KEDUA ALFATIHAH TERSIMPAN PADA SERAT TUBUH BAGIAN JANTUNG jika ayat ini tidak tersambung/di utak atik atau di baca zigzag maka akan sangat berpengaruh pada seluruh reaksi jantung dan jiwa,orang yang tadi sangat bahagia bisa tiba tiba menangis merauang raung tampa sebab,jiwa yang sakit jika mampu di connectkan dengan ayat ini dengan 7 ayat lainnya maka akan mampu memproduksi energy ketenangan luar biasa nyata pada jiwa nya,dan jika ayat ini di utak atik maka organ jantung nya bisa terlepas dari untaian,ini jualah yang di lakukan oleh praktisi ilmu gayung bathin atau gayung api (membuat jantung lawan terputus).
AYAT YANG KETIGA tersimpan dalam serat tubuh bagian bahu sampai telapak tangan sebelah kanan
AYAT YANG KE EMPAT tersimpan di serat tubuh bagian bahu sampai telapak tangan kiri
AYAT ALFATEHA YANG KE LIMA tersimpan pada serat tubuh bagian kaki kanan
AYAT ALFATEHA YANG KE ENAM tersimpan pada serat tubuh bagian kaki kiri…dan
AYAT ALFATEHA YANG KE TUJUH tersimpan pada serat tubuh bagian zakar/kelamin ( jika ayat ke 7 ini mampu di connect kan dengan ayat yang lain sangat ampuh dan efective untuk media solusi bagi yang sudah berkelurga namun belum mendapatkan keturunan).
ketujuh ayat surat alfateha ini jika ia mampu mengalirkan energy dengan connecitas yang stabil maka seluruh inti sari serat ruh serta energy dari alfateha itu sangat berpungsi nyata untuk berbagai keperluan,ia menjdi tonggak tunggal dari media penyelesaian masalah dalam hidup ini.namun jika ia di putus maka terputus jualah sebab sebab dari kejadian yang bersamaan dengannnya tadi sehingga bagian tubuh yang tersimpan serat tersebut akan goncang dan tidak dapat lagi di pungsikan sesuai dengan kehendak si pemilik tubuh,ia akan bergerak dan bertindak di luar control tampa di sadari oleh si pemilik tubuh…
BERIKUT TATA CARA MENG CONNECT KAN KE TUJUH AYAT ALFATEHA YANG TERSIMPAN BERPENCAR DI BATANG TUBUH MANUSIA (menurut ijazah yang saya dapat bahwa jika ke tujuh ayat ini belum mampu connect/tergabung/menyambung satu dengan lainnya maka energy dari ibu alfateha ini sangat sulit untuk di aplikasikan pada berbagai keperluan zahir maupun bathin:
-ambillah air hujan/tampunglah air hujan biasa dengan menggunakan wadah dari plastic,air hujan yang saya maksud adalah air hujan yang pertama sekali hujan setelah minimal 3 hari tidak hujan,tampungnya jangan terkena bahan lain dalam artian air hujan yang jatuh tersebut jangan di tampung dari tetesan daun,pohon atau atap rumah,tampunglah air tersebut dengan tidak terkena bahan lain ( seperti membuat air battre/AKI ).
setelah di dapat air hujan murni dari zat lain tersebut,pada jam 11 malam (boleh hari apa saja) ambillah wudhuk lalu sholatlh 2 rakaat bagi yang tidak sholat silahkan langsung duduk berzikir saja,nah setelah selesai sholat letakkan air hujan tersebut dalam piring yang juga terbuat dari plastic,lalu lakukan zikir tehnik seperti ini:
DENGAN DI DAHULUI BISMILLAH DAN SYAHADAT BACALAH SURAT AL-FATHayat terakhir sebnyak 7x lalu di lanjutkan ayat alfatihah yang pertama sebanyak 1x dengan posisi tangan memegang tengkorak kepala maksud saya kedua telapak tangan tempelkan ke pada kedua telinga seperti saat kita azhan.(lihat surat AL-FATH ayat terakhir tersebut akan terdapat semua huruf dari ALIF sampai YA berada pada satu ayat tersebut,ini ayat yang sangat lengkap karena semua huruf alquran berada lengkap pada satu ayatnya).
LANJUTKAN DENGAN AYAT YANG KEDUA SAMPAI AYAT KE TUJUH SURAT ALFATEHA TERSEBUT DENGAN TEHNIK YANG SAMA SEPERTI DI ATAS,DENGAN POSISI DUDUK SEPERTI INI:
PADA AYAT KEDUA POSISI KEDUA TANGAN MEMEGANG/MENDEKAP JANTUNG
PADA AYAT KE TIGA POSISI TANGAN KANADAN MELINTANG MENEMPEL PADA PERUT DAN TANGAN KIRI LURUS BIASA SAJA
PADA AYAT KE EMPAT POSISI TANGAN KIRI MENDEKAP MELINTANG DI PERUT DAN TANGAN KANAN LURUS BIASA SAJA
PADA AYAT KE LIMA KAKI KANAN MELINTANG BERSILA DAN KAKI KIRI LURUS MEMBUJUR
PADA AYAT KE ENAM KAKI KIRI YANG MELINTANG BERSILA DAN KAKI KANAN LURUS MEMBUJUR
PADA AYAT KE TUJUH SAMPAI AMIN BAGIAN SELANGKANGAN/KELAMIN KENCANGKAN DENGAN MENAHAN NAPAS,ingat saya katakn kencangkan bukan tegangkan..ntr malah terkena pasal pidana pencabulan lagi,hehehe..jadi saat membaca tehnik yang saya tulis tersebut tahanlah napas bukan oleh napas.
setelah itu selesai hembuskan napas tujuh kali pada air hujan dalam piring plastic tadi,lalu simpan dulu air hujan tersebut,lakukan tehnik connecsitas tersebut selama 7 malam berturut turut dengan tehnik yang sama dan jam yang sama pula.nah saat nanti selesai tujuh malam maka gunakanlah air hujan tersebut untuk mandi pada sore hari (campur dengan air mandi biasa) sebelum mandi bacalah alfateha tujuh kali dengan membaca ber HARKAT,ada 7 harkat dalam alfateha tersebut jangan di baca seperti membaca koran.nah setelah itu selesai si pengamal ibu alfateha ini sudah dapat menggunakan energy inti sari dari ruh alfateha ini seperti contoh berikut:
TATA CARA MAKRIFAT PENGGUNAAN YANG PERTAMA:
bacalah bismillahhirrahmnnirrahim
syahadat 1x
alfateha sampai pada kalimat iyya kanaq budhu waiyya kanastain…! stop smpai pada kalimat ini lalu
sambung dengan niat (tidak akan tersambung alfateha ini sebelum si (nama terget) datang kepada ku membayar hutangnya)
NB: jangan di sambung alfateha yang tadi kita baca sebelum si penghutang datang membayar hutangnya (namun jika dalam sholat alfateha yang dibaca wajib harus penuh sampai amin,intinya alfateha yang telah kita niatkan untuk menghantam si penghutang tadi saja yang tidak akan kita sambung sebelum niat nya terkabul.
TATA CARA YANG KEDUA:
tata cara ini kalau merujuk pada bahasa sesepuh kwa di namakan BOSSTER keilmuan seperti contoh saya selalu melakukan tehnik seperti ini:
bismillahhirrahmannirrahim
syahadat 1x
alfateha dari awal sampai iyya kanaq budhu waiyya kanastain lalu saya sambung dengan kalimat” besi lah bebismillah,bismillah karena aku,aku karena ALLAH..dst,lalu baru saya tes tembak si orang yang tadi saya isikan sumpah serapah besi” setelah nyata tidak luka tubuhnya oleh pelor barulah saya sambung kembali alfateha tersebut,mulai dari baca awal sampai amin,dan ucapkan syukur pada gusti ALLAH bahwa doanya telah terkhabul.
TATA CARA KE TIGA:
` bismillahhirrahmannirrahim
syahadat 1x
alfateha dari awal sampai iyya kanaq budhu waiyya kanastain lalu tambah niat(tidak akan saya sambung alfateha ini sebelum saya selamat aman sampai di rumah kembali) dan berangkat lah keluar rumah untuk mencari rezeki di bumi ALLAH yang luas ini,selama alfateha itu belum tersambung tidak akan ada satu makhluk pun yang mampu mencelakai/menipu si pengamal,karena jika alfateha tidak tersambung di baca oleh anak cucu adam maka terputuslah sebab akibat,qodo dan qadar dari rotasi alam semesta ini,ayo mana lebih penting menyelamat kan qodo alam semesta dari pada satu niat dan kesempatan dari mahkluk lain yang berniat jahat.biasanya sepengalaman saya tidak ada satupun manusia yang mampu menahan gempuran penjaga alfateha ini,jika ia di baca setengah dengan niat karena sebab si (target belum membayar hutangnya atau yang lainnya)ingat sangatlah penting bagi penjaga khodamus surat alfateha menyelamatkan si pembaca alfateha yang baru setengah tadi alfateha terbaca utuh sehingga kekuatan ruh alfateha dan rotasi alam semesta dapat berlangsung seperti yang telah di qadar kan.
-untuk penggunaan lain silahkan tambahkan saja niat sesuai dengan kondisi masalah yang tengah kawan kawan hadapi,medianya boleh ilmu sendiri,boleh juga ranting kayu di jalanan jika ingin selamat dari serangan orang demo,senjata lawan juga mampu di tumpulkan dengan tehnik ibu alfateha ini,tenaga lawan pun yang menyerang dengan bringas juga akan tawar,lumpuh lemah jika di gunakan penawar dengan tehnik seperti di atas.
-sepengalaman saya menggunakan makrifat ibu alfateha ini hampir semua kegiatan zahir dan bathin serta economi yang mampu energy nya mediasi,tinggal kawan kawan saja memahami inti makrifatnya dan menggunakannya dengan sungguh sungguh.
SANGAT PENTING: setelah terkhabul niat serta ilmu nya dengan menggunakan tehnik ibu alfateha ini maka ingatlah jangan lewat dari 7 jam laftehanya harus segera di sambung karena jika terlewat akan sangat berisiko sangat tinggi bagi organ tubuh si pengamal..!!!!
NB: ada ratusan lagi kaji makrifat dari penggunaan serta pemahaman dari alfateha ini yang saya tidak dapat tuliskan di blog tercinta ini karena teramat panjangnya kaji sehingga tentu di luar batas standarisasi penulisan blogger,selain itu sesepuh yang lain juga sangat saya yakini dapat menularkan kaji makrifat alfateha yang jauh lebih tinggi dari yang saya tulis ini.
TATA CARA CONNECTION KE 7 AYAT ALFATEHA YANG TERPENCAR PENCAR TERSEBUT:
cara yang kedua ini dapat di lakukan langsung dengan bersalaman dengan NABI KHAIDIR atau saya,dengan cara ini jika saya yang menyalami?tehnik bersalaman maka kemungkinan akan saya ketahui bahwa ke tujuh ayat itu sudah terhubung satu sama lain atau belum karena biasanya jika sudah terhubung reaksi nya sangat nyata berupa sengatan listrik yang lumayan besar terasa mengalir di tangan saat bersalaman,listrik yang mengalir sangat nyata dan bukan karna sugesti atau aliran rasa rasa dan kira kira saja,selain itu biasanya alat alat electronik akan mati/off sendiri dalam beberapa menit setelah selesai akan hidup lagi(bukan rusak alat alatnya tetapi off sebentar saja) ini terjadi bukanlah karena khodam ataupun jin dari ayat tersebut tetapi radar konsleting frekwensi dari terhubungnya serat sari pati dari ruh ayat ayat alfateha tadi dalam tubuh manusia ( baca jg buku air electric penemuan prof TESLA saingannya thomas alva edison) bahkan cara seperti ini termasuk cara seperti di atas meng connect kan sendiri akan sngat efective membangunkan diri yang sebenar dirinya ( biasanya saat ke 7 ayat alfateha itu terhubung dalam serat organ tubuh manusia maka secara outomatic diri yang sebenar dirinya akan bangun sehingga ia akan merasakan satu fenomena kehidupan berpikir yang jauh lebih sehat,matang tenang dan dapat mengendalikan ke arah mana tujuan hidupnya harus ia tempuh.
namun cara yang kedua ini sangat lah sulit untuk di lakukan selain kita sama sama memiliki kerja dan kewajiban masing masing,yang mengikat kita akan waktu bertemu tentu juga bertemu nabi khaidir tadi memerlukan pikiran yang bersih,saya pun bertemu beliau kemungkinan besar hanya karena waktu itu saya masih muda belia dan tinggal di kampung,jaman sekarang kita kita yang sudah hidup di kota dan di penuhi oleh kontaminasi moderen terkadang membuat hati kita sdh di susupi tipu daya dan iri dengki,kemunkinan ini lah yang membuat kita rawan gagal bertemu beliau.
(RAJA RYZAL KELAYANG.Ms.F.MH)

Rahasia Huruf Alqur’an

Rahasia Huruf Alqur’an

Rahasia huruf yang terkandung dalam Alquran, secara tegas Rasulullah tidak pernah menjelaskan rahasia ini. Hanya saja beliau mengisyaratkan bahwa di dalam Alquran itu jika diringkas, inti Alquran itu adanya dalam surat Al Fatihah sehingga disebut ummul qur’an, … kemudian oleh ulama sufi di kembangkan menjadi suatu ilmu dalam mencari hakikat huruf atau firman ….
Mungkin cara yang ditempuh oleh para guru-guru sufi sering kali membuat bingung pengamat, sehingga mereka dianggap orang yang mengada-ada dalam beragama. Sebenarnya tidaklah demikian, … saya sendiri bukanlah penganut faham ajaran para sufi tentang rahasia huruf yang mereka kemukakan. Akan tetapi saya hanyalah orang yang mencoba mengerti methode yang di sampaikan sebagai pendekatan ilmu, … agar sang murid mudah memahami dalam arti hakikat. Bagi saya hal itu sah saja, karena di dalam memberikan pengertian arti tersembunyi sangatlah sulit, sehingga mereka mempunyai cara yang indah untuk memudahkan dalam memberikan arti rahasia ketuhanan dengan sederhana. Hal ini saya ungkapkan agar para pengamat tidaklah mencurigai ajaran para sufi ini.
 
Mari kita fahami rahasia huruf ini dengan pengertian kita sekarang…. Huruf adalah sebuah rumus yang pada mulanya tidak memiliki arti apa-apa, … kemudian tersusun menjadi sebuah kata dan susunan kata menjadi sebuah kalimat dari kalimat terkandung sebuah pengertian, … dan pengertian itu bukanlah sebuah kalimat !!
Kalau kita perhatikan sebelum ada kesepakatan manusia mengenai rumusan huruf, huruf adalah sebuah artikulasi yang timbul dari dorongan udara yang terhalang oleh pita suara pada tenggorokan, sehingga menghasilkan bunyi … kata ADUH !! AU !! bukan sebuah kalimat tetapi mengandung sebuah pengertian menunjukkan rasa sakit atau terkejut.
 
Seandainya rumus-rumus itu tidak ada maka huruf, kata, kalimat pun tidak ada, … akan tetapi walaupun rumus-rumus huruf tidak ada, namun hakikat pengertian dalam diri manusia tetap ada. Anda akan menemukan bahasa yang sama pada diri manusia seluruh dunia yaitu bahasa jiwa, yang tidak berhuruf, tidak bersuara, tidak bergambar. Maka benarlah jika demikian bahwa Alqur’an itu awalnya adalah bahasa wahyu (bahasa Allah) laa shautun wala harfun tidak berupa suara dan bukan berupa huruf yang di-translate kedalam bahasa manusia yaitu bahasa Arab !! Pada saat itu Rasulullah hanya mengerti dengan jelas apa yang telah turun kedalam jiwanya. Bahasa Allah itu berupa ilham / wahyu, menurut kamus bahasa Arab dalam Munzid, ilham itu berarti memasukkan pengertian kedalam jiwa orang itu dengan cepat. Dikehendaki dengan cepat, ialah dituangkan sesuatu pengetahuan-pengetahuan ke dalam jiwa dalam sekaligus dengan tidak lebih dahulu timbul fikiran dan muqadimat-muqadimatnya, … seperti binatang lebah, ketika menerima wahyu dari Allah, binatang itu tidak mengenal huruf, akan tetapi mereka mampu menangkap ajaran Allah ketika Allah menginstruksi-kan membuat rumah-rumahnya yang indah dan tersusun rapi dan cerdas !
 
Pengertian itu tidak terdiri dari rangkaian huruf atau suara. seperti perasaan CINTA dan Perasaan RINDU dan perasaan ini tidak ada tertulis huruf C-I-N-T-A, … walaupun anda tidak menggunakan rangkaian huruf dan suara mengapa anda memahami rindu dan cinta itu, … akhirnya anda menterjemahkan kedalam bahasa manusia menjadi aku rindu, aku cinta …. Keadaan ini sangat jelas dan tidak bisa bercampur dengan perasaan lainnya. Cinta itu sangat jelas tempatnya bahkan anda mampu menceritakan dengan bahasa yang lugas. Inilah rahasia firman Allah yang akan diungkapkan oleh ulama sufi dalam bahasa yang indah dan dimengerti oleh murid-muridnya.
Selanjutnya setelah anda mengerti akan uraian saya diatas maka marilah kita membahas maksud pertanyaan saudara mengenai rahasia huruf dalam Alqur’an.
Alquran mengandung 6666 ayat, terhimpun dalam AL FATIHAH dan Al fatihah pula terhimpun dalam BISMILLAHIRRAHMAN NIRRAHIM dan bismillahirrahman nirrahim terhimpun dalam Alif, sedangkan ALIF terhimpun dalam BA’ dan pada Ba’ terhimpun pada titiknya. Pada titik inilah awal mula semua kejadian bentuk huruf….
Hampir mudah sekarang kita memahami maksud rumusan diatas, karena kita tahu bahwa Al qur’an itu adalah firman Allah mengandung seluruh perintah dan larangannya, tata hukum dan sejarah bangsa-bangsa manusia, … pada seluruh rangkaian firman sebanyak 30 juz itu ternyata terangkum dalam ummul qur’an (Al fatihah).
Pada ummul qur’an menyimpulkan inti ajaran Alquran : Tentang masalah ketuhanan yaitu sifat af’al dan Dzat Allah…Dialah Allah yang memiliki sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang Tidak ada yang berhak menyandang pujian kecuali Dia Dia lah tempat segalanya bergantung Karena Dia adalah penguasa alam semesta Kepada-Nya manusia memohon pertolongan dan petunjuk Demikianlah kesimpulan maksud ummul Qur’an, yaitu berserah dan menerima Allah serta bersandar kepada yang Maha menguasai alam dan diri manusia.
 
Berarti dari rangkaian ayat-ayat dalam Al fatihah adalah tertumpu pada huruf ba’ (dalam tata bahasa Arab sebagai ba’ sababiyah), artinya semua yang ada berasal dari huruf ba’ dengan sebab ismi (nama). Kalau di pisah bi- ismi- Allah (bismillah) semua yang ada karena sebab adanya Asma, pada Asma terdapat yang memiliki Asma yaitu Dzat, ini terangkum dalam arti titik, karena titik baru bersifat Kun (jadilah) maka terjadilah segala sesuatu. Karena kun-Nya yang dilambangkan dengan titik, merupakan asal dari segala coretan huruf berasal dari titik-titik yang beraturan menjadi garis, garis menjadi bentuk atau wujud. 
 
Sedangkan dzat tidak berupa titik karena titik masih merupakan sifat dari pada DZAT !! artinya Kun Allah bukanlah DZAT, karena Kun (kalam / wahyu) adalah sifat dari pada Dzat, bukan Dzat itu sendiri, … sehingga arti titik adalah akhir dari segala ciptaan, pada titik ini terkandung ide-ide yang akan tergores suatu bentuk dan pada wilayah inilah yang dimaksud para kaum sufi sebagai Nur Muhammad (cahaya terpuji), karena segala sesuatu akan memuja dan mengikuti kehendak Dzat, dan Dzat berkata melalui Kun-Nya, maka jadilah semuanya. Hal ini juga terurai dalam filsafat yang menunjukkan arti hidup, diurai dalam makna yang berbeda, akan tetapi mempunyai kandungan pengertian yang hampir mirip dengan uraian saya diatas.
Seorang guru besar mengajarkan kepada anaknya hal berikut :
Ambilkan aku buah pohon itu disana itu  Sang murid menjawab, Ini dia yang mulia ….Belah dua-lah itu.Sudah terbelah, yang mulia Apakah yang kamu lihat ?Saya melihat biji yang amat kecil Belah dua-lah salah satu dari padanya Dia sudah terbelah, yang mulia Apakah yang kamu lihat didalamnya ? Tidak ada sesuatu apapun, yang mulia
Sang guru berkata : Yang halus ialah unsur hidup Yang tak tampak olehmu Dari yang halus itulah sebenar yang ada Yang dari padanya sekalian ini terjadi Itulah hakikat yang sejati, Itulah hidup Itulah kamu ……
Dari sebuah biji, terangkum ide-ide yang akan terjadi, … nanti akan ada sebuah akar yang menjulur, daun-daun yang hijau, batang yang kokoh serta buahnya yang ranum. Dan itu terangkum dalam sesuatu yang tak terlihat, yaitu hakikat hidup
 
Syekh An Nafiri menguraikan masalah huruf ini dalam kitab Raaitullah (Aku telah Melihat Allah). Beliau dalam pembahasan masalah hakikat juga menggunakan ‘huruf’ sebagai lambang segala sesuatu tercipta untuk mengungkapkan bahwa dzat itu bukanlah sebuah apa yang bisa digambarkan, sebab segala sesuatu yang masih bisa digambarkan disebut dengan huruf.
Huruf dirangkai menjadi perkataan, dari perkataan menjadi pendapatan, pendapatan bersama dengan perkataan akan menjadikan bilangan. Pendapatan disatukan dengan bilangan perkataan, dan bilangan perkataaan disatukan dengan bilangan pendapatan menimbulkan kekuatan magis, dan atas dasar hukum peringatan hal yang demikian adalah masuk dalam kekufuran. Hukum bilangan kata adalah hukum bantah-membantah (sengketa) yang satu berlawanan dengan yang lain, hal mana membawa kepada kepiluan dan kecemasan, hal yang demikian adalah kemustahilan belaka dan menjadikan ketegangan dan keguncangan. Asma (nama-nama) dan sifat-sifat dan Af’al (perbuatan-perbuatan) adalah hijab belaka atas Dzat ilahiat. Karena sesungguhnya Dzat ilahiat itu tidak dapat menerima pembatas. Dzat ilahiyat itu berada pada tingkat ketinggian, sedangkan pelepasan (penanggalan tajrid) dan Asma dan Ilahiyat adalah urut-urutan yang menurun. Asma dengan Dzat Asmanya berdiri tanpa perbuatan
 
Kesimpulan dari semua keterangan diatas adalah:
Para sufi ingin memudahkan dalam pencaharian Tuhannya melalui firman dan ciptaannya….Secara berurutan terurai sebagai berikut …Alam adalah firman Allah yang tak tertulis (ayat-ayat kauniyah), dan Alqur’an adalah ayat-ayat kauliyah …Semua alam semesta tergelar atas Asma Allah (bismillah) Asma terkandung kehendak …Kehendak terkandung dalam sifat…Sifat terkandung dalam Af’al. Af’al terkandung pada Dzat
Semua itu adalah hijab, karena asma, sifat, af’al bukanlah dzat itu sendiri … itulah yang dimaksud para sufi bahwa segala yang tergambarkan adalah HURUF, dan merupakan hijab, … dan Dzat berada dibalik TITIK … dzat tidak bisa digambarkan oleh sesuatu, … untuk mengetahui Dzat Allah harus menyingkirkan huruf dan titik, karena itu adalah hijab !! Demikian semoga Allah membuka hati kita aamiin.....

Sabtu, 28 Januari 2012

Adab Bagi Yang Tersingkapkan Alam Ghaib

"Kadang-kadang Allah Swt memperlihatkan padamu alam Malakutnya yang ghaib, dan (namun) Allah Swt menutup dirimu dari melihat rahasia-rahasia hambaNya."

Diantara kasih sayang Allah Swt pada hamba-hambaNya, terkadang, Allah Swt membuka rahasia-rahasia alam malakut pada si hamba itu, berupa rahasia ilmu pengetahuan dan detail kema’rifatan, sampai nyata betul, bahkan anda pun meraih apa yang tak bisa dibayangkan oleh mata, tak pernah terdengar telinga dan tak pernah muncul dalam intuisi sekali pun. Namun pada saat yang sama, Allah Swt, justru menutup rahasia-rahasia yang ada pada hamba-hambaNya, karena rahmat dan cintaNya kepadaMu agar kalian tidak terpedaya oleh pandangan meneliti rahasia para makhlukNya dan hamba-hambaNya. Allah Swt sedang memberikan pelajaran mulia kepadamu dengan cara menghindarkan dirimu memandang rahasia makhluk lain.
“Barang siapa yang dibukakan Allah Swt rahasia-rahasia hambaNya, namun orang itu tidak berakhlak dengan Rahmat Ilahiyah, maka wujud penglihatan rahasia itu justru akan menjadi fitnah (cobaan) bagi dirinya sendiri, dan menjadi faktor yang menyebabkan terjadinya cobaan bencana baginya.”

Banyak orang yang dibukakan oleh Allah Swt, tentang rahasia-rahasia hambaNya, namun betapa orang itu malah mendapat cobaan yang serius, hanya karena ia sendiri tidak menerapkan Akhlaq Rahmat Ilahiyah. Diantara cobaan yang muncul adalah tragedi ruhaninya sendiri berupa kesombongan, kekaguman pada diri sendiri, dan memanfaatkan nya untuk kepentingan duniawinya.

Padahal rahasia Allah itu ditampakkan padanya, agar ia menjalankan fungsi Rahmatan Lil’alamin melalui akhlak Rahmat Ilahiyahnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Athaillah as-Sakandary.

Orang yang berakhlak dengan Rahmat Ilahiyah adalah orang yang memiliki keluasan kasih sayang terhadap hamba-hamba Allah Ta’ala, dan manusia merasakan hamparan kasih sayangnya dan perilaku akhlaknya. Ia telah menjadi bapak bagi mereka. Inilah yang diteladankan Nabi Saw, dalam Al-Qur’an, “Dan ia penuh kasih sayang kepada kaum beriman.” (Q.s. Al-Ahzaab:43)

Sang Nabi Saw, memaafkan orang-orang yang berbuat salah dan dosa, menyayangi dan mengasihi orang miskin, dan menjabat tangan orang-orang yang bodoh serta berbuat baik pada orang-orang yang berbuat buruk.

Sebab sebagaimana dikatakan oleh Ummul Mu’minin, ra, “Akhlaknya adalah Al-Qur’an”, dan beliau membaca ayat, “Ambillah maaf, dan perintahlah dengan baik, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Q.s. Al-A’raaf:7).

Orang yang berakhlak demikian, berarti ketersingkapannnya merupakan kemuliaan baginya dan rahmat bagi hamba-hambaNya.

Jika tidak, maka ia akan teruji oleh fitnah dalam dirinya seketika dan di akhirat kelak:
Pertama, ia merasa lebih hebat dan lebih bersih dibanding yang lain dengan kelebihan-kelebihannya.
Kedua, ia telah mempersempit rahmat dan kasih sayang Allah pada hamba-hambaNya.
Ketiga, ia telah menyakiti hamba-hamba Allah dengan membuka rahasia-rahasia kelemahannya, dan inilah awal bencana.
Maka penyair Sufi mengatakan:
Tebarlah kasih sayang, wahai anakku
Pada semuanya, dan lihatlah
Pada mereka dengan mata kinasih yang lembut
Hormati yang tua, kasihi yang muda
Jagalah hak akhlak pada setiap makhluk.
wallahu a'lam...(azizi)

Minggu, 22 Januari 2012

Kepekaan terhadap Ayat-ayat ALLAH

Beberapa macam keimanan manusia telah disebut dalam Al-Qur’an. Ada yang kafir dan ada yang mukmin. Ada yang menjadikan Al-Quran sebagai bahan tertawaan, ada pula yang mengimaninya, bahkan hanyut dalam kesyahduan setiap kali mendengarkannya. Ada yang beriman setengah hati, ada pula yang beriman dengan sepenuh hati. Bagaimana tanda-tanda keimanan yang sepenuh hati itu?


Cukup banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskannya. Di antara tanda-tanda itu adalah sikap menundukkan muka, bersujud, mengagungkan, mensucikan Allah dan meyakini semua janjiNya [QS al-Isra’ (17) : 107-109]; gemetar badannya dan bergetar hatinya setiap kali mengingat Allah dan ayat-ayatNya [QS Al-Zumar (39):23]; menyungkur, bersujud dan menangis ketika mengingat ayat-ayat Allah (QS. Maryam (19):58].

Semua tanda itu telah lengkap ada pada diri Rasulullah SAW. Begitu tinggi keimanan beliau. Kita mengaguminya, berusaha mencontohnya dan membaca salawat setiap kali kita menyebut atau mendengar namannya. Dengan sikap takdhim kepada Rasulullah SAW ini, kita berharap dengan kemurahan Allah SWT, cahaya Rasulullah SAW menyinari kalbu kita. Apakah para sahabatnya telah mencontoh keimanan beliau? Bagaimana pula generasi-generasi sesudah para sahabat Rasulullah SAW? inilah yang akan saya jelaskan pada artikel ini. Uraian ini merupakan ringkasan dari buku AIBuka-u ‘Inda Qira’ati al-Qur’an (Menangis Ketika membaca Al Qur’an) oleh Abdullah bin Ibrahim Al-Luhaidan. Tidak mungkin dalam kesempatan ini, saya menceritakan semua sahabat. Saya akan menyebut beberapa di antaranya saja.

Pada suatu saat ketika Umar bin Khattab r.a menjadi imam shalat, ia membaca surat Yusuf [12]. Ketika sampai ayat (86) air matanya mengalir sampai ke dada. Ayat yang berkaitan dengan kisah Nabi Ya’qub ini mengingatkan bahwa pengaduan dan keluhan tentang semua kesedihan yang paling benar hanya kepada Allah. Dalam waktu yang lain, Umar r.a juga pernah jatuh tersungkur ketika membaca surat aT-Thuur (52) : 1-8. Ayat ini menjelaskan antara lain bahwa jika siksa Allah sudah ditetapkan. maka tidak satupun orang dapat menghindarinya. Menurut beliau setiap ayat dalam al-Quran merupakan teguran pada diri pribadinya. Setelah kejadian itu ia sakit dan tidak bisa keluar rumah beberapa hari. Para sahabat yang menjenguknya tidak mengetahui sebab sakitnya.

Abdullah bin Abbas r.a pernah menangis tersedu-sedu sambil mengulang-ulang QS Qaaf (50) : 19. Ayat ini menjelaskan kematian pasti terjadi bagi setiap orang. Dan setiap kematian pasti melalui “sakaratul maut” (beratnya saat terakhir menjelang kematian).
Tidak peduli siapapun. Gelar kenabian tidak bisa melepaskannya dari sakaratul maut. Rasulullah SAW sendiri mengeluarkan keringat di keningnya pada saat-saat terakhir menjelang wafat. Beliau ketika sadar beberapa saat, beliau bersabda kepada Aisyah bahwa begitulah gawatnya sakaratul maut yang akan dialami setiap manusia.

Abdullah bin Umar r.a. mendadak menangis sekeras-kerasnya ketika membaca QS Al-Baqarah (2): 284. Ayat ini menjelaskan bahwa tidak ada yang samar bagi Allah. Ia Maha Mengatahui semua isi hati manusia. Apalagi yang ditampakkan dalam ucapan, sikap dan tindakan. Mengampuni atau menyiksa manusia adalah hak Allah sepenuhnya.
Dalam kesempatan lain, putra Umar bin Khattab ini juga menangis ketika membaca QS al-Hadiid (57):16. Ayat ini bertanya heran “mengapa manusia selalu menunda-nunda bertaubat?”. Kapan lagi jika tidak sekarang untuk menundukkan diri kepada Allah. Bahkan Ia menangis tersungkur dan tidak bisa melanjutkan shalat ketika membaca Surat Al-Muthaffifin (83):6. Allah mengisahkan dalam ayat ini bahwa setiap manusia akan berdiri satu persatu mempertanggung jawabkan perbuatannya di hadapan Allah. Di luar shalat, ketika minum segelas air, ia menangis keras, ia teningat frman Allah QS Saba’ (34):54 yang menjelaskan penghuni neraka tidak akan memperoleh apapun yang diminta. Padahal yang dimintanya dan penghuni surga hanyalah seteguk air [QS. Al-Araaf (7): 50].

Abu Musa Al Asy’ary r.a menangis membaca Surat Al-lnfithaar (82):6. Sambil mengatakan betapa bodoh dirinya dalam benibadah kepada Allah SWT. Ayat ini bertanya dengan nada heran mengapa manusia tidak berpikir untuk mencari sebab sebab ia jauh dari Allah. Dan mengapa manusia justeru mengikuti musuh-musuh Allah? [QS Al-Kahfi (18):50].

Dari kalangan generasi setelah sahabat terdapat nama yang populer kesalehannya yaitu Umar bin Abdul Aziz. lsterinya, Fatimah binti Abdul Malik menceritakan, ”beliau shalat malam dan tiba-tiba menangis tersungkur ketika membaca surat Al-Qaari’ah (1O1):5 tentang dahsyatnya hari kiamat. Beliau tidak sadar bahkan isterinya mengira ia telah meninggal. Ketika sadar ia menjerit lagi dan menangis sampai terdengar adzan Shubuh.

Ketika menjadi imam salat Shubuh, Fudlail bin ‘lyadi menangis keras ketika membaca surat Al-Haaqqah (69):30. Ayat ini menceritakan murka Allah kepada para pendurhaka. “Tangkap dan belenggulah tangannya ke lehernyal” perintah Allah SWT kepada malaikat. Anaknya, Ali yang sedang menjadi makmum juga jatuh pingsan.

Bertahun-tahun Al-Quran kita baca. Berkali-kali pula kita tamat (khatam) membacanya. Namun hanya sebagian kecil ayat-ayat yang kita fahami apalagi yang memberi getaran kalbu kita. Tidak mudah bagi orang seperti kita memahami semua ayat Al-Quran. Kita coba merenungkan ayat-ayat tersebut yang menggetarkan hati para sahabat radilyallahu ‘anhum dan orang-orang shaleh sesudahnya. Barangkali ayat-ayat itu juga bisa menggetarkan atau paling tidak berkesan bagi kita. Atau kita bisa mencari satu atau beberapa ayat yang kita rasakan dapat menggugah hati untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Satu ayat Al-Quran saja jika dihayati akan dapat membawa revolusi spiritual, khususnya ayat yang sesuai dengan latar belakang liku-liku perjalanan hidup kita masing-masing.

Dengan ayat yang demikian terasa seolah-olah Allah sedang berbicara langsung dengan kita. Ketika kita dalam ratapan kesedihan, seakan-akan kita sedang dihibur Allah dengan firmanNya. Atau sedang ditegur olehNya ketika kita sadar telah melakukan sebuah dosa. Dan penghayatan itu terjadilah konversi: yang semula angkuh menjadi patuh kepada Allah; yang sebelumnya hidup dalam kemaksiatan berubah untuk beribadah penuh ketaatan; yang semula datar-datar saja dalam keagamaan menjadi bersemangat dalam meningkatkan ketakwaan. ltulah yang menjadi harapan kita. Amin.

Prof. Dr. H. M. Ali Azis, MAg.

Sabtu, 10 Desember 2011

MOHONLAH PERTOLONGAN HANYA PADA ALLAH

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. Al-Anfaal (8): 9)

Untuk mendapat pertolongan Allah dengan serta merta dengan menurunkan Malaikat Malaikat atau Jundullah harus memenuhi beberapa syarat, Dr. Yusuf Qaradhawi mensarikan cara memperoleh pertolongan Allah pada saat kita membutuhkan dalam beberapa butir berikut:

Pertolongan Allah hanya diberikan kepada pelaku yang benar-benar turun di lapangan untuk berjuang. (QS. Al-Anfaal (8): 9)
Pertolongan Allah hanya diberikan kepada orang-orang yang menolong agamaNya. (QS. Muhammad (47): 7)
Hamba yang ikhlas dan memurnikan ibadah kepadaNya. (QS 10:22)
Hamba yang mensucikan diri dari mengkonsumsi segala hal yang diharamkanNya. (Hadits)
Hamba yang menderita. (QS. Al-Anbiyaa’ (21): 87-88)
Hamba yang terus berdo’a karena tidak tahu kapan do’anya akan dikabulkan – tidak tergesa-gesa. (Hadits).

Kita tidak akan mencapai Quantum Hikmah apabila Syarat ini “Hamba yang ikhlas dan memurnikan ibadah kepadaNya” belum di applikasikan secara sepenuhnya dalam ibadah kita…

Kalau Niat dan Aqidah masih belum jujur ber-Tauhid Uluhiyyah, jangan kaget kalau yang datang selalunya Khodam dari kalangan jin….., apapun status manusianya…walaupun tingkatan Ulama, kyai, ustaz, mursyid dan lain lain…, yang di lihat kan bukan statusnya akan tetapi itiqad di hatinya…

Maka jangan berbangga mempunyai khodam pendamping, pada hakikatnya yang menjadi khodam adalah manusia itu sendiri dan si jin yang menjadi tuan, dan manusia ini menjadi sapi perahan, yang menjadi sakti adalah si jin bukan manusia pengamal-nya

Bagaimana cara membedakan apakah itu kita didampingi khodam jin. Adakah kaedah yang bisa digunakan untuk mengetahuinya ?

Kalau kita mempunyai pendamping Jin , baik itu Jin muslim atau Jin kafir (yang membedakan pengaruhnya adalah intensitasnya) , yang paling berasa adalah emosi yang tidak stabil (mudah tersinggung, cepat naik darah) dan apabila sudah beberapa lama biasanya keadaan ekonomi terpengaruh (pokoknya selalu ada ada saja masalah berhubung dengan keuangan, dapet duit tapi habisnya juga cepat dll) dan setelah itu biasanya akan terpengaruh kondisi kesehatan (sering pusing, sakit pundak, sakit pinggang, badan terasa berat), kondisi semua ini berterusan bukan sementara…..

Menurut saya karena energi bangsa Jin adalah panas , jadi sejalan dengan waktu energi manusia yang di dampinginya terpengaruh …sehingga ada pengaruh2 negatif seperti di atas…

Yang anehnya, Wallahu ‘Alam bi shawab , saya banyak melihat Jin muslim dengan Jin kafir bisa hidup berdampingan dalam satu badan manusia….

Apa yg harus dilakukan agar barakah wirid kita tidak dapat diserap oleh mereka ?

Luruskan Niat dan Itiqad ..!, berzikir untuk beribadah secara jujur untuk Allah karena Allah dan demi Allah hanya mengharapkan limpahan rahmat dan menggapai keridhoan Allah, sebagai bentuk ketaqwaan total kepadanya sebagai bentuk aplikasi dari Tauhid Ibadah-Uluhiyyah.

Insha Allah dengan rahmat Allah kita akan di lindungi oleh Allah dari segala sesuatu yang tidak di rahmatiNya dan dijauhkan dari hal-hal yang tidak Haq.

Sebelum dan sewaktu berzikir jagalah niat dan itiqad bahwa zikir ini adalah sebagai ibadah karena Allah BUKAN berzikir karena SESUATU, Karena suatu faedah atau khasiat, seperti takut masuk neraka dan ingin masuk surga atau karena menginginkan hajat-hajat tertentu, seperti kesaktian, karomah dan lain lain , kalau masih mengharapkan upah dari ibadahnya ini namanya belum lagi bertauhid secara jujur seperti Ibadah seorang pedagang.

Apabila dzikir tadi telah selesai, disini WAKTUNYA berdo’a , silahkan berdo’a seluruh hajat2 anda, Karena Allah memang menyuruh kita berdoa kepadaNya, ini sebagai tanda penghambaan kita pada Allah.
Ada saatnya untuk berzikir ikhlas karena Allah DAN ada saatnya untuk berdoa kepada Allah, jangan dicampur-campur, itu sama saja merebut HAQ-nya Allah, karena dalm beribadah itu ada adab-adabnya yang perlu di ikuti.

Tentunya kita familiar dengan ucapan ” Dawamkan atau amalkan hizib, asma atau Ayat ini dan itu sekian kali selama beberapa hari, Insya Allah berkhasiat ini dan itu”
Apa yang biasanya terjadi, si pengamal mempunyai niat dan itiqad dengan harapan dapat khasiat ini dan itu….., Sebelum dan sewaktu si pengamal mengamalkan hizib, asma atau ayat-ayat tsb.

Pengamal ilmu hikmah dengan cara ini memang akan mendapat apa yang dia hajatkan dengan Izin Allah akan tetapi belum tentu di rahmatiNya, segala sesuatu yang tidak di Rahmati oleh Allah adalah hal yang sia-sia.

Pendapat saya peribadi, hal ini lah yang tanpa di sadari, malah semakin menjauhkan kita kepada HAKEKAT Tauhid Ibadah yang sebenarnya.

Memang susah merubah pola-pikir dan keyakinan kita, saya sendiri pun masih dalam tahap belajar tata-cara beribadah secara ikhlas karena Allah tanpa embel2 tertentu , ya selama puluhan tahun selalunya berzikir karena sesuatu maksud ..tidak ikhlas dalam arti sesungguhnya.

Jangan pernah terpikir bahwa “Pahala” dari amal ibadah kita bisa “Cukup” atau “lebih” sehingga menjamin masuk ke sorga-Nya Allah, walaupun kita beribadah sehari semalam seumur hidup kita MASIH sangat kecil untuk bisa di terima di Surga-nya Alllah, Hanya dengan RahmatNya lah kita di perkenankan Masuk ke Surga-Nya Allah. Rasulullah pun tidak bisa memberikan Syafaat tanpa RahmatNya Allah.

Ada beberapa kumpulan yang sangat anti dengan pengamalan hizib-hizib auliyya, amalan2 dari ayat-ayat alquran dengan tatacara tertentu dan sejenisnya (tidak termasuk asma-asma karangan masa kini ya…), sampai ada yang buat buku yang pada umumnya menyatakan bahwa hizib-hizib ini sesat dan mengundang Jin……, bagi saya ini adalah contoh orang punya pengetahuan kurang lengkap akan tetapi sudah berani menjatuhkan hukuman…..

Harusnya mereka mengkaji lebih dalam lagi sebelum menjatuhkan hukuman, menurut saya, yang salah itu bukan Hizib-Hizibnya atau amalan-amalannya yang salah itu adalah manusia yang mengamalkannya.

Ada beberapa sebab yang menyebabkan seseorang yang mengamalkan sesuatu amalan atau Hizib malah dirinya di datangi Jin dan ber-acting seolah menjadi khodam dari amalan/ hizib tesebut.

1. Menerima Pengizahan dan Pengisian dari seseorang dimana disadari atau tidak disadari “source of energy” nya adalah dari khodam-khodam Jin yang ikut seseorang tsb.

Badan kita ibarat rumah kita, kita yang bertanggung jawab terhadap kebersihan dan keamanan rumah kita…., nah bagaimana mau bersih dan aman , kalau kitanya sendiri selalu mengundang dan mengijinkan mereka masuk dengan senang hati para tamu-tamu yang tidak jelas kebersihannya dan tidak perduli dengan akibat yang akan di timbulkan di masa yang akan datang.

2.Niat dan Itiqad bukan beribadah ikhlas karena Allah dalam arti sesungguhnya akan tetapi mengamalkan amalan/hizib karena khasiat ini dan itu dari hizib/amalan tsb. Yang ini sudah di bahas

3.Khodam-Khodam Jin yang pernah menjadi pendamping Leluhur kita

Kebanyakan para leluhur di nusantara ini menguasai beberapa keilmuan lama, bisa saja ilmu yang bersih bisa juga ilmu yang agak-agak gelap, para leluhur ini dengan niat yang baik karena sayangnya kepada keluarga mereka pernah atau sering istilahnya ber-doa atau mengucapkan mantra untuk melindungi keluarga dan anak-cucunya, kalau di jaman dahulu do’a ini ada diartikan sabda oleh para pendamping-pendamping ghaib leluhur kita waktu itu, karena sudah terikat dengan sumpah maka mereka akan mematuhi “sabda” dari tuan-nya walupun tuannya sudah meninggal, karena umur mereka adalah panjang-panjang maka mereka secara otomatis akan menjaga dari generasi ke generasi, masalahnya adalah cucu-cucu di zaman sekarang ini TIDAK mempunyai “ilmu-nya” untuk mengontrol para pendamping leluhur kita ini, ya akibatnya bisa macam-macam bagi cucu-cicit ini tapi biasanya sih jadi berakibat kurang bagus.

WA ALLHU 'ALAM BIS SHAWAB

Jumat, 02 Desember 2011

Filsafat dan Hikmah Shalat

Ayat 45 surat Al-‘Ankabut membahas filsafat agung shalat. Ayat itu berbunyi, “Sesungguhnya shalat itu mencegah [manusia] dari perbuatan yang keji dan mungkar.”

Pada dasarnya, hakikat shalat adalah mengajak manusia untuk mengetahui faktor pencegah paling kuat (dalam diri manusia) yaitu keyakinan terhadap wujud Allah (sumber permulaan) dan Hari kebangkitan (ma’âd) yang berpengaruh kuat dalam mencegah manusia dari melakukan perbuatan yang keji dan mungkar.

Seseorang yang berdiri untuk melakukan shalat dan mengucapkan takbir, mengakui bahwa Allah swt; Dzat yang Lebih Baik dan Lebih Tinggi dari segala yang ada dan akan mengingat semua kenikmatan yang telah diberikan oleh-Nya. Dengan mengucapkan pujian dan syukur, ia memohon curahan kasih dan sayang-Nya, mengingat hari pembalasan, mengakui ketundukan, melakukan penyembahan kepada-Nya, memohon pertolongan-Nya, meminta petunjuk dari-Nya untuk mendapatkan jalan yang lurus dan memohon perlindungan sehingga tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang telah dimurkai oleh-Nya serta tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tersesat. (Kandungan dari surat Al-Fatihah).

Tanpa syak lagi, manusia yang mempunyai kalbu demikian akan memahami bahwa setiap langkah perjalanannya akan mengarah kepada sesuatu yang hak dan benar, gerakannya akan menuju kepada kesucian dan kesempurnaan, dan lompatannya akan melesat ke arah ketakwaan.

Manusia semacam ini, ketika melakukan shalat dengan membungkukkan badannya untuk ruku’, laksana seorang hamba dan meletakkan dahi di atas permukaan tanah di haribaan suci-Nya untuk mengakui kebesaran dan kemuliaan-Nya dan tenggelam dalam keagungan-Nya, serta menghapus segala ego dan kesombongan yang ada pada dirinya.

Lalu ia pun akan mengucapkan syahadat untuk memberikan kesaksian atas keesaan-Nya dan risalah Rasul-Nya.

Setelah itu, ia mengirimkan shalawat kepada utusan-Nya yang mulia, Rasulallah saw dan menengadahkan kedua tangannya di bawah mihrab suci-Nya untuk memohon belas kasih supaya dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang salih.

Semua faktor ini akan memunculkan semangat spiritual dalam dirinya; sebuah gelombang besar yang mampu melebur dan meluluhlantakkan setiap dosa yang menumpuk di hadapannya.

Amal semacam ini terulang beberapa kali dalam sehari semalam. Bahkan, ketika ia terbangun dari tidurnya di pagi hari yang masih gulita pun, ia telah tenggelam dalam kenikmatan mengingat-Nya.

Di pertengahan hari, ketika ia telah disibukkan oleh kehidupan materi, tiba-tiba suara takbir muadzin akan menghentakkan dan menyadarkannya untuk menghentikan sejenak apa yang sedang dikerjakannya, kemudian bergegas mempersiapkan diri menghadap ke pelukan Sang Kekasih. Bahkan pada akhir hari dan permulaan malam sebelum menuju ke tempat istirahatnya pun, ia masih menyempatkan diri untuk mencurahkan seluruh isi hatinya, mengadu, menangis, meratap, berkeluh kesah kepada Sang Pemilik Hati dan menciptakan hatinya sebagai pusat cahaya-Nya.

Setelah itu dan untuk selanjutnya, pada saat menyambut kedatangan shalat, terlebih dahulu ia akan memulainya dengan mencuci dan menyucikan diri, menjauhi segala hal yang haram dan menghindarkan diri dari kemarahan, kemudian bergegas mendatangi tempat Sang Kekasih yang penuh dengan persahabatan. Demikianlah, seluruh faktor ini mempunyai efek dalam mencegah diri ketika berhadapan dengan hal-hal yang keji dan mungkar.

Hanya saja, efek shalat itu sesuai dengan terpenuhinya syarat-syarat kesempurnaan dan ruh ibadah dalam mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar, yang terkadang hal ini dapat membentuk sebuah sistem kontrol pada segala kondisi, terkadang pula pada kondisi-kondisi tertentu dan terbatas.

Adalah mustahil terjadi jika seseorang yang telah melakukan shalat tidak mendapatkan sedikitpun efek dari apa yang telah ia lakukan, betapapun shalat yang dilakukannya hanya bersifat formalitas saja dan betapapun orang yang melakukan shalat adalah orang yang bergelimang dengan dosa. Tentu saja pengaruh dari shalat yang dilakukan oleh orang-orang semacam ini tidak akan pernah mendapatkan hasil yang maksimal. Namun, bila mereka meninggalkan shalat, sudah pasti akan semakin hanyut dan bergelimang dalam perbuatan-perbuatan dosa.

Lebih jelas kami tekankan bahwa pencegahan shalat dari perbuatan keji dan mungkar memiliki derajat dan tingkatan yang berbeda-beda. Dan setiap shalat apabila diukur dengan perhatian terhadap syarat-syarat yang dimilikinya, akan mampu menduduki sebagian dari derajat-derajat tersebut.

Di dalam salah satu hadis, dinukil bahwa pada masa Rasulullah saw, terdapat seorang pria muda dari kaum Anshar yang senantiasa mengikuti shalat yang dilakukan oleh Rasul saw. Tetapi, pada sisi lain ia masih senantiasa bergelimang dalam berbagai maksiat. Lalu, hal ini disampaikan kepada Rasul saw. Setelah mendengar laporan ini beliau bersabda, “Suatu hari nanti shalatnya dapat mencegahnya dari perbuatan-perbuatannya tersebut.”

Sedemikian pentingnya pengaruh shalat, hingga pada sebagian riwayat Islam disebutkan bahwa bias yang akan muncul dari pelaksanaan shalat akan menjadi tolok ukur apakah shalat yang dilakukan oleh seseorang telah diterima di sisi-Nya ataukah belum. Imam Ash-Shadiq as dalam salah satu hadis berkata, “Seseorang yang ingin melihat apakah shalatnya telah diterima oleh Allah swt atau belum, hendaklah ia melihat apakah shalat yang telah dilakukannya ini dapat mencegahnya dari perbuatan yang keji dan mungkar atau tidak? Sejauh mana ia telah tercegah dari hal-hal tersebut, sekadar itu pulalah shalat yang dilakukannya telah dikabulkan di sisi-Nya”.

kelanjutan ayat di atas menegaskan,”Dan sesungguhnya mengingat Allah itu adalah lebih besar [keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain].”

Dzahir ungkapan ini menjelaskan sisi lain dari filsafat shalat. Bahkan, ia mempunyai kedudukan lebih tinggi dan lebih penting dari mencegah perbuatan keji dan mungkar itu sendiri. Efek tersebut adalah, bahwa dengan melakukan shalat, manusia dituntun untuk senantiasa mengingat Allah swt. Hal ini merupakan akar dari segala kebaikan dan kebahagiaan. Bahkan, dapat diakui bahwa unsur utama dari pencegah perbuatan keji dan mungkar adalah mengingat Allah (dzikrullah). Keutamaan mengingat Allah dikarenakan dzikir merupakan sebab dari pencegahan tersebut.

Pada prinsipnya, mengingat Allah swt merupakan inti detak kehidupan kalbu manusia dan puncak ketenangan hati. Tidak ada sesuatu pun selainnya yang bisa mencapai tingkatan semacam ini.

Di dalam surat Ar-Ra‘d [13], ayat 28 ditegaskan, “Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.”

Pada dasarnya, ruh seluruh ibadah —baik ibadah shalat maupun selain shalat— adalah mengingat Allah swt. Berbagai bacaan, gerakan, mukaddimah, ta’qîb, doa, dan selainnya yang dilakukan dalam shalat, sebenarnya adalah untuk menghidupkan ruh zikir kepada Allah swt di dalam hati manusia.

Perlu diperhatikan bahwa di dalam ayat 14 surat Thaha telah diisyaratkan prinsip filsafat shalat. Allah swt berfirman kepada Nabi Musa as, “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”

Dalam sebuah hadis diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih baik dari amal manusia yang bisa menyelamatkan mereka dari azab Ilahi selain mengingat-Nya.” Lalu, Mu'adz bertanya kepada beliau, “Meskipun jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Iya! Karena Allah swt berfirman, ‘Sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar [keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain].’”

Efek Shalat dalam Mendidik Individu dan Masyarakat

Meskipun filsafat shalat bukanlah rahasi bagi seseorang, akan tetapi pemberian atensi yang besar terhadap teks ayat dan riwayat Islam akan menuntun kita pada berbagai pekerjaan yang lebih mengakar dalam masalah ini.

a. Hakikat, prinsip, tujuan, pondasi, mukaddimah, hasil, dan -pada akhirnya- filsafat shalat adalah mengingat Allah swt yang pada ayat di atas ditegaskan, bahwa zikir memberikan hasil yang paling tinggi dibandingkan ibadah-ibadah yang lain.

Tentu saja yang dimaksud dengan zikir di sini adalah zikir sebagai mukaddimah berpikir, dan berpikir yang dilandasi oleh keinginan untuk mengaktualkannya. Imam Ash-Shadiq sa. dalam salah satu hadis ketika menafsirkan ayat waladzikrullâh Akbar berkata, “(Zikir adalah mengingat Allah ketika hendak melakukan pekerjaan halal dan haram.” (Yaitu, mengingat Allah awt. ketika melakukan perbuatan yang halal dan menutup mata dari perbuatan yang haram).

b. Shalat merupakan media menyucikan diri dari dosa-dosa dan memohon pengampunan Ilahi, karena —mau tidak mau— shalat yang dilakukan oleh manusia akan mengajaknya untuk mengoreksi diri, memperbaiki diri, dan bertaubat atas apa yang telah dilakukan pada masa lalu. Oleh karena itu, dalam salah satu hadis kita membaca, Rasulullah saw pernah bertanya kepada para sahabat, “Apabila di hadapan pintu rumah Kamu terdapat sebuah sungai yang mengalir dengan bening dan bersih, kamu mandi dan mencuci badannya lima kali dalam sehari semalam di dalam sungai itu, Apakah masih tersisa daki dan kotoran di badan Kamu?” Mereka menjawab, “Tidak ada, ya Rasulallah!” Lalu beliau melanjutkan,“Shalat sebagaimana halnya air mengalir itu. Setiap saat seseorang melakukan shalat, maka dosa-dosa yang dilakukannya di antara dua shalatnya akan terhapus dan menjadi bersih karenanya.”

Dan dengan shalat ini, luka, barutan, dan goresan dosa yang ada di dalam ruh dan jiwa manusia akan sembuh karena kemanjuran obat yang berbentuk shalat ini, dan karat-karat yang terdapat di dalam kalbunya pun akan menjadi bersih kembali dengan melakukan shalat.

c. Shalat merupakan tanggul penghalang dalam menghadapi serangan dosa-dosa yang akan datang, karena sesungguhnya shalat akan menguatkan iman di dalam kalbu manusia dan menumbuhkan tunas-tunas ketakwaan baru di dalam hatinya. Kita mengetahui bahwa “iman” dan “takwa” merupakan tanggul yang paling kuat untuk menahan goncangan dosa, dan ini merupakan maksud dalam ayat di atas bahwa shalat adalah pencegah dari perbuatan keji dan mungkar, dan merupakan maksud dari banyak hadis yang mengatakan bahwa terdapat sekelompok orang yang senantiasa melakukan dosa, lalu kondisi mereka itu diceritakan kepada para imam sa. Mereka berkata, “Janganlah bersedih, karena shalat akan memperbaiki mereka”, dan ternyata memang demikian.

d. Shalat Menghancurkan Kelalaian

Musibah paling besar yang dialami oleh para pencari jalan kebenaran adalah lalai terhadap tujuan penciptaan dan tenggelam dalam kehidupan materi serta kelezatan-kelazatan duniawi yang hanya sekejap. Tetapi, dengan adanya variasi hukum dalam setiap jaraknya dan pelaksanaannya secara kontinyu yang dilakukan sebanyak lima kali dalam sehari semalam, shalat akan senantiasa membunyikan lonceng peringatan kepada manusia dan akan membangun ingatannya untuk senantiasa sadar terhadap tujuan penciptaan.

Dengan shalat, kehadiran-Nya di alam ini akan senantiasa diperdengarkan, dan merupakan suatu kenikmatan yang sangat besar bahwa manusia mempunyai sarana dan fasilitas yang berada dalam ikhtiyarnya, sehingga dengan alat yang dimilikinya ini ia selalu terjaga secara kuat beberapa kali dalam sehari semalan.

e. Shalat Menghilangkan Kesombongan dan 'Ujub

Dengan shalat, kesombongan dan rasa kagum terhadap diri sendiri akan bisa terberangus dari diri manusia. Karena selama sehari semalam manusia melakukan tujuh belas rekaat shalat, di mana dalam setiap rekaatnya, ia meletakkan dahinya di atas tanah sebanyak dua kali dan merendahkan diri di hadapan-Nya. Ia menganggap dirinya hanyalah butiran yang begitu kecil yang tak berharga dibandingkan dengan keagungan-Nya, bahkan menganggap dirinya bukanlah apa-apa ketika berada di hadapan Dzat Yang Tak Terbatas.

Shalat akan menyibakkan tirai-tirai kesombongan dan egoisme manusia, serta memporak-porandakan kesombongan dan rasa puas pada diri sendiri.

Dengan dalil inilah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kw. dalam sebuah hadis terkenal yang merefleksikan filsafat ritual Islam setelah iman, dalam rangka menjelaskan ibadah shalat berkata, “Allah mewajibkan iman untuk membersihkan manusia dari syirik dan mewajibkan shalat untuk membersihkan diri dari kesombongan.”

f. Shalat Sebagai Penyempurnaan Akhlak

Shalat merupakan mediator kesempurnaan akhlak dan spiritualitas manusia, karena shalat akan mengeluarkannya dari dunia materi yang terbatas dan dari ruang lingkup empat sisi dinding alam natural, lalu mengajaknya melesat terbang ke langit malakut dan menyatukannya dengan barisan para malaikat. Setelah itu, ia akan melihat dirinya berada di hadapan -Nya tanpa membutuhkan sedikitpun mediator, dan ia pun akan melihat betapa dirinya telah mampu melakukan perjumpaan dengan Nya.

Pengulangan amal ini dalam sehari semalam yang dilakukan dengan menyandar pada sifat-sifat Allah yang Pengasih, Penyayang dan keagungan yang dimiliki-Nya, khususnya dengan bertawassul kepada surat-surat yang bervariasi dalam Al-Qur’an setelah selesai membaca Al-Fatihah, merupakan penggerak ke arah kebaikan dan kesucian yang paling utama. Dan hal ini mempunyai pengaruh yang tidak sia-sia dalam pembinaan keutamaan akhlak di dalam wujud manusia.

Oleh karena itu, dalam salah satu hadis mengenai filsafat shalat, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kw. berkata, “Shalat merupakan perantara untuk bertaqarrub dan mendekatkan diri kepada Allah bagi setiap orang yang bertakwa.”

g. Shalat Mengisi Nilai pada Seluruh Amal

Shalat memberikan nilai dan ruh pada keseluruhan amal yang dilakukan oleh manusia. Karena shalat akan menghidupkan hakikat keikhlasan, dimana shalat merupakan kumpulan dari niat yang murni dan perkataan yang suci, serta amal-amal yang dilaksanakan dengan penuh keikhlasan. Pengulangan amal-amal tersebut secara keseluruhan dalam sehari semalam akan menyebarkan bibit-bibit amal yang terpuji di dalam jiwa manusia dan akan menguatkan keikhlasan yang ada di dalam wujudnya.

Oleh karena itu, dalam salah satu hadis terkenalnya, Amirul Mukminin Ali bi Abi Thalib kw. ketika berwasiat setelah terluka oleh hujaman pedang Ibnu Muljam (la’natullah ‘alaih) berkata, “Jagalah shalat! Karena sesungguhnya shalat merupakan tiang dari agamamu.”

Kita mengetahui bahwa apabila tiang yang dipergunakan untuk mendirikan kemah patah atau roboh, maka betapapun kuatnya tali dan paku-paku yang tertancap di sekitarnya tidak akan membawa pengaruh sedikitpun untuk tegaknya kembali kemah tersebut. Demikian juga halnya ketika tidak ada lagi komunikasi antara hamba dengan Tuhannya yang dimanifestasikan dalam bentuk shalat, maka amal yang lainnya pun akan menjadi kehilangan pengaruh.

Dalam sebuah hadis, Ash-Shadiq sa berkata, “Masalah pertama yang akan dihisab oleh Allah dari hambaNya pada Hari Kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya terkabul, akan terkabul pula seluruh amalnya yang lain dan apabila shalat ini tidak diterima, maka akan gagal pulalah seluruh amal-amal yang lain.”

Mungkin dalil ucapan beliau ini adalah, bahwa shalat merupakan rumus dan rahasia komunikasi antara makhluk dengan Khaliqnya. Apabila hal ini dilakukan dengan cara yang benar, maka niat taqarrub dan keikhlasan yang merupakan syarat terkabulnya keseluruhan amal akan bisa hidup dalam dirinya, dan apabila tidak, maka amal-amal yang lainnya akan menjadi kotor dan terpolusi sehingga akan menyebabkannya keluar dari derajat yang disyaratkan.

h. Shalat Membawa Kesucian Hidup

Meskipun tanpa memperhatikan kandungan yang ada di dalam shalat, yaitu dengan memperhatikan validitasnya, pada hakikatnya ia mengajak manusia untuk hidup dalam kesucian. Hal ini dapat kita ketahui dari syarat tempat yang dipergunakan untuk melakukannya, pakaian yang dikenakan, alas dan air yang dituangkan untuk berwudhu serta mandi. Dan juga tempat yang dipergunakan oleh seseorang untuk mandi dan berwudhu harus merupakan tempat yang betul-betul tidak terkotori oleh ghasab dan tidak diperoleh dengan cara zalim dan melanggar hak-hak orang lain. Seseorang yang terkotori dengan kezaliman, ternodai oleh sifat-sifat kelewatan, riba, ghasab, mengurangi timbangan dalam transaksi, korupsi dan usaha-usaha yang dilakukan dengan menggunakan kekayaan yang haram, bagaimana ia bisa menyiapkan mukadimah shalat? Oleh karena itu, pengulangan shalat sebanyak lima kali dalam sehari semalam merupakan sebuah ajakan untuk menghormati hak-hak yang dimiliki oleh orang lain.

i. Shalat Sebagai Pelindungan Diri dari Maksiat

Shalat selain harus mempunyai syarat keabsahan dan syarat keterkabulan, atau dengan kata lain, harus mempunyai syarat-syarat yang sempurna dalam dua hal tersebut, juga merupakan sebuah elemen yang efektif untuk meninggalkan begitu banyak perbuatan dosa.

Dalam kitab-kitab fiqih dan sumber hadis disebutkan begitu banyak faktor lain yang bisa menjadi referensi dari terkabulnya seatu shalat. Di antaranya, tentang meminum khamar (minuman keras) yang dalam sebuah riwayat ditegaskan, “Selama empat puluh hari, tidak akan diterima shalat seseorang yang meminum minuman keras, kecuali apabila ia bertaubat.”

Dalam banyak riwayat kita membaca, “Salah satu dari golongan yang shalatnya tidak akan dikabulkan oleh Allah adalah shalat yang dilakukan oleh kaum zalim dan penganiaya.”

Dalam sebagian riwayat lain telah ditegaskan bahwa shalat yang dilakukan oleh seseorang yang tidak membayar zakat tidak akan pernah terkabul. Demikian juga riwayat yang lain mengatakan bahwa memakan makanan haram, mengagumi diri sendiri, sombong, dan takabur merupakan salah satu penghalang bagi terkabulnya shalat. Dari sini bisa dipahami, sejauh manakah pengaruh konstruktif yang akan didapatkan seseorang dengan terpenuhinya syarat-syarat keterkabulan tersebut.

j. Shalat Penguat Semangat Disiplin

Shalat akan menguatkan semangat disiplin dalam diri manusia, karena bagaimanapun juga, shalat harus benar-benar dilakukan pada waktu yang telah ditentukan. Pelaksanaan shalat yang dilakukan dengan mengakhirkan atau mempercepat dari waktu yang seharusnya akan menyebabkan batalnya shalat yang dilakukan oleh seseorang. Demikian juga dengan aturan dan hukum-hukum lain dalam masalah niat, berdiri, ruku’, dan sujud. Memperhatikan semua ini akan menumbuhkan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari menjadi betul-betul mudah dan lancar.

Semua poin di atas merupakan manfaat yang terdapat di dalam shalat dengan tanpa memperhatikan masalah shalat berjamaah. Namun bila keistimewaan shalat berjamaah ini kita tambahkan dalam diskursus di atas, di mana sebenarnya ruh dan hakikat shalat terletak pada shalat berjamaah, kita akan menemukan berkah yang tak terhitung banyaknya. Tetapi, pembahasan tentang shalat berjamaah bukan tempatnya untuk kami diskusikan di sini. Selain itu, sedikit banyak kita pun telah mengetahuinya.

Kami menutup pembahasan tentang filsafat dan rahasia shalat dengan sebuah hadis yang telah dinukil dari Ar-Ridha sa. Dalam menjawab surat yang menanyakan filsafat shalat, beliau berkata, “Tujuan disyariatkannya shalat adalah atensi dan pengakuan terhadap ketuhanan Allah swt, melawan syirik dan penyembahan berhala, berdiri di hadapan haribaan-Nya dalam puncak kekhusyukan dan kerendahan diri, mengakui dosa-dosa serta memohon pengampunan-Nya terhadap dosa-dosa yang telah dilakukannya, dan meletakkan dahi di seluruh hari untuk berkhidmat kepada-Nya.

Demikan juga, tujuan disyariatkannya shalat adalah supaya manusia senantiasa terjaga dan berpikir sehingga tidak ada lagi debu-debu kelalaian yang akan singgah di dalam hatinya, supaya manusia tidak sombong dan mabuk dengan dirinya, supaya manusia menjadi orang-orang yang khusyu’ dan tawadhu’, serta mencari dan mencintai bertambahnya pemberian segala sesuatu dalam agama dan dunianya.Selain konsistensi zikir kepada Allah sepanjang hari dan malam yang dihasilkan dari sinar shalat, shalat akan membuat manusia tidak melupakan Pengatur dan Penciptanya, hingga jiwa liar dan tak terkendali tidak akan mampu mengalahkannya.

Dengan perhatiannya terhadap Allah swt dan berdiri di haribaan suci-Nya, ia akan mencegah manusia dari perbuatan-perbuatan dosa dan akan menghindarkannya dari segala kerusakan.”

Sabtu, 05 November 2011

Malam Lailatul Qadr Dlm Brbagai Pandangan dan sepenggal kisah nabi sam'un ghozi..

Malam Lailatul Qadr. Dalam Berbagai Pandangan

Malam Lailatul Qadr adalah malam yang lebih baik dari pada 1000 Bulan. Malam ini adanya hanya di bulan Suci Ramadhan. Malam lailatul Qadr adalah malam yang jika beribadah didalamnya ibarat beribadah 83 tahun lamanya. Bagaimana Cerita Lailatul Qadr ini :

Didalam Kitabnya "Dibalik Ketajaman Mata Hati" Al Imamum Adzim Iman Al Ghazali ra menerangkan sebagai berikut :

Dari Sahabat Rasulullah saw bahwa Nabi saw berkumpul bersama para sahabat di Bulan Suci Ramadhan. Kemudian Nabi saw bercerita tentang seorang Nabi bernama Samun Ghozi as. Nabi Samun Ghozi as adalah Nabi yang diutus di tanah Romawi. Nabiyullah Samun Ghozi as memiliki kemukjizatan dapat melunakkan besi, dan dapat merobohkan istana kaisar. Cerita Nabiyullah Samun Ghozi as seperti yang pernah dirilis dalam versi TV yang berjudul Samsun dan Dhelilla (kisah ini berdasarkan karangan yahudi). Nabiyullah Samun Ghozi as berperang melawan bangsa yang menentang Ketuhanan Allah SWT. Karena ketangguhan dan keluar biasaannya akhirnya sang kaisar mencari jalan untuk menundukkan nabiyullah Samun Ghozi as. Berbagai upaya dilakukan sehingga akhirnya atas nasehat para penasehatnya diumumkan

barang siapa yang dapat menangkap samum Ghozi akan mendapat hadiah emas dan permata yang berlimpah. Singkatnya akhirnya Nabiyullah Samun Ghozi as terpedaya oleh isterinya. Karena sayangnya dan cintanya kepada isterinya Akhirnya Nabiyullah Samun Ghozi berkata kepada isterinya "Jika kau ingin mendapatkanku dan menangkapku maka ikatlah aku dengan rambutku ini". Akhirnya Nabiyullah Samum Ghozi as ini pun ditangkap dan di berikan dihadapan kaisar. Kemudian beliau disiksa dengan dibutakan kedua matanya dan diikat serta dipertontonkan diistana kaisar. Karena perlakukan yang demikian hebatnya, Akhirnya Nabiyullah Ghozi as berdoa kepada Allah SWT. Berliau berdoa dengan dimulai dengan bertaubat, kemudian memohon atas kebesaraaNya. Maha Besar Allah SWT, doa Nabiyullah Samun Ghozi as dikabulkan dan istana kaisar bersama seluruh masyarakatnya hancur berserta isteri dan para kerabat yang menghianatinya. Kemudian nabiyullah bersumpah kepada Allah SWT akan menebus semua dosanya dengan berjuang menumpas semua keanggaramurkaan yang lamanya 1000 bulan tanpa henti. Semua itu atas inayah dan Hidayah dari Allah SWT. Ketika Nabi selesai menceritakan cerita Nabiyullah Samun Ghozi as yang berjuang fisabilillah selama 1000 bulan, salah satu sahabat nabi berkata : Ya Rasulullah, kami ingin juga beribadah seperti nabiyullah Samun Ghozi as. Kemudian Nabi saw, diam sejenak. Kemudian Malaikat Jibril as datang dan mewahyukan kepada beliau bahwa pada bulan Rhamadhan ada sebuah malam yang mana malam itu lebih baik daripada 1000 bulan. Mendengar hal itu para sahabat menjadi senang. Beberapa Hadist tentang Lailatul Qadar :

Aisyah ra berkata : "Adanya Nabi saw jika pada malam-malam sepuluh yang akhir bulan Rhamadhan mempererat ikat kainnya, dan bangun semalam suntuk dan membangunkan keluarganya. (HR. Bukhari, Muslim). Anas ra berkata : Nabi saw bersabda : "Sesungguhnya Allah telah memberikan pada Ummatku Lailatul Qadri, dan tidak diberikannya pada ummat-ummat yang sebelum mereka" (HR. Addailami). Ubadah bin Asshamit berkata : Nabi saw bersabda : "Carilah Lailatul Qadr itu pada malam-malam sepuluh yang akhir yang ganjil yaitu malam 21, 23, 25, 27 atau 29. Maka siapa yang bertepatan bangun sembahyang malam karena Iman dan mengharap pahala, maka akan diampunkan dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang. (HR. Atthabarani). Watsilah berkata : Nabi saw bersabda : "Malam Lailatul Qadr itu, malam yang cerah (terang) tidak dingin dan tidak panas, tidak berawan dan tidak hujan, dan tiada angin, dan tidak dilempar bintang-bintang, dan tandanya pada pagi harinya matahari terbit tak bersinar (Hanya tampak terang putih tetapi tidak panas). (HR. Atthabarani). Aisyah ra bertanya : Ya Rasulullah bagaimana pendapatmu jika saya dapat menemui lailatul Qadr itu, Apakah yang harus saya baca ? Jawab Nabi saw : Bacalah : Allahumma innaka afuwwu tuhibbul afwa fafu anni." (Ya Allah Engkau pemaaf dan suka memaafkan, maka maafkanlah aku) (HR. Annasai). Aisyah ra berkata : "Adanya Nabi saw itikaf dimalam sepuluh yang akhir dibulan Ramadhan hingga meninggal dunia, kemudian sepeninggal Nabi saw para isteri-isteri Nabi saw juga itikaf " (HR. Bukhari, Muslim).

Rahasia dibalik Malam Lailatul Qadr Secara Tasaawuf

Malam Lailatul Qadr adalah malam yang begitu besarnya. Pada Malam ini seluruh Para Wali Allah merayakannya. Bahkan diantara mereka sepakat menyebut malam lailatul Qadr adalah Hari Raya Mereka sebagai mana kita merayakan hari Raya iedul Fitri dan Iedul Adha. Ada beberapa Rahasia dibalik Malam Lailatul Qadr. Dalam surat Al Qadr disebutkan :

Al Qadr (97) ayat 1 Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.

Al Qadr (97) ayat 2 Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?

Al Qadr (97) ayat 3 Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.

Al Qadr (97) ayat 4 Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan ijin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

Al Qadr (97) ayat 5 Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Dalam Ayat tersebut dikatakan bahwa Ar ruh adalah Malaikat Jibril as akan turun. Menurut tafsir secara tassawwuf, Malaikat Jibril as tidak pernah turun setelah Beliau Nabi saw telah meninggal. Karena Malaikat Jibril as adalah malaikat yang bertugas menurunkan Wahyu kepada Para Nabi dan Rasul as. Setelah Nabi saw wafat, maka Jibril as merasa berduka atas hal itu. Disini tampak bahwa Malaikat Jibril as begitu cintanya kepada Baginda Rasulullah. Namun dengan Turunnya Surat Al Qadr ini menerangkan bahwa Ar Ruh Jibril as akan turun. Turunnya Jibril as secara tassawwuf beliau datang menemui Baginda Rasulullah saw. Disinilah terjadi pertumpahan kecintaan antara sang kekasih dengan yang terkasih yang telah lama terpisah. Turunnya Malaikat Jibril as setelah menemui baginda rasulullah saw beliau meminta petunjuk mengenai orang-orang yang akan mendapat malam lailatul Qadr. Rasulullah saw kemudian memberikan syarat-syarat atau kreteria yang akan mendapat lailatul Qadr. Diantara kreteria-kreteria tersebut adalah :

* Orang yang berniat karena Allah untuk mendapatkan malam lailatul Qadr.

* Orang yang menghidupkan malam itu dengan ibadah-ibadah semata karena Allah SWT.

* Orang yang memperbanyak membaca Sholawat atas Nabi saw

* Orang yang menghatamkan Al Quran.

Begitulah kreteria-kreteria yang diperintahkan oleh Baginda Rasulullah kepada Jibril as untuk mencari dan mencatat orang-orang yang pada malam Lailatul Qadr itu memenuhi kreteria-kreteria tersebut.

Kapankah Lailatul Qadr itu turun ?

1. Dari Hadist diatas bahwa Malam lailatul Qadr turun dalam 10 malam terakhir yang ganjil 21, 23, 25, 27, 29.

2. Imam Syafii Berkata : Dalam Surat Al Qadr disebutkan Kata Lailatul Qadr disebut 3x jika dihitung hurufnya dari kata "Lailatul Qadr" berjumlah 9 huruf. Jadi Malam lailatul Qadr terjadi 9x3 = 27. Malam ke 27 Dari Bulan Ramadhan.

3. Syech Abu Yazid Al Busthani (Seorang Wali Quthub di Masanya Berkata ) : Aku mendapati malam Lailatul Qadr selalu terjadi Pada Malam Yang ke-27 dari Bulan Ramadhan. Menjadi pertimbangan kita bersama, marilah kita berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan malam lailatul qadr ini. Kita mulai dengan niat yang kuat bahwa kita benar-benar ingin mendapatkan malam lailatul Qadr tersebut. Jika kita tarik kesimpulan dan menghindari atas kesalahan marilah kita ambil jalan tengah yaitu : Kita mulai meningkatkan ibadah kita pada malam terakhir yang ganjil yaitu pada malam ke 21,23,25. Dan Pada malam Yang ke-27 kita lebih khususkan. Bahkan kalau perlu kita check situasinya. Kita bisa lihat keadaan malam

> pada saat itu. Apakah memang benar hadist dan riwayat mereka itu ? Dan memang begitulah Malam lailatul Qadr. Adalah Malam yang penuh kedamaian, Terang, tiada angin, tiada hujan, dan bintang terang. Dan biasanya keesokan harinya terang dengan tidak terasa panas. Catat dan buktikan sendiri kenyataan ini sebagai kebesaran dan kemulian dari pada Malam yang penuh berkah dan Penuh ke ampunan Allah SWT.


Kapankah Sebaiknya Memulainya ?

Kembali masalah ini adalah masalah keyakinan kita masing-masing. Namun demikian apa yang saya tuliskan disini adalah rujukan dari seorang Mursyid. Hendaknya, pada Malam ke-27 Ramadhan ini, kita berikhtiar memulai antara jam 10 sampai jam 2 Malam. Setelah Jam 2 Malam kita lakukan sholat-sholat sunnah. Sampai Masuk Waktu Saur. Jika boleh kita persempit, berdasarkan dari 2 kejadian malam lailatul qadr yang dialami disuatu Jamaah di Kota Sumenep - Madura, tepatnya di Masjid Naqsyabandi. Disana memulai malam lailatul Qadr tepatnya Jam 11. Disini selama 1 Jam digunakan untuk menghatamkan Al Quran. Kemudian Tepat Jam 12 dilakukan Sholat taubat. Jam 1- 1.30 dilakukan Istimdat menadahkan nur fuyodot yang diturunkan oleh Allah Swt. Kemudian sisanya bolehlah dilakukan sholat sunnat yang lain atau boleh berziarah ke kuburan para wali atau beristirahat asalkan tidak tidur sampai Waktu Subuh masuk. Namun demikian, saya belum mendapatkan informasi untuk pelaksanaan malam lailatul Qadr yang sekarang. Jikalau memungkinkan untuk tujuan yang baik dan bukan untuk kesombongan belaka atau bukan untuk pamer atau untuk bidah dan semacamnya. Saya insya Allah akan memberikan informasi berdasarkan keyakinan yang selama ini kami jalani dalam kaum tasawwuf. Namun demikian disarankan kita janganlah terlalu mengecap jelek suatu perbuatan sebab tujuan kita sama yaitu ingin mendapatkan yang terbaik dari malam lailatul Qadr illahi taala.

semoga bermanfaat,,wasalammualaikum...